Mengenang 21 Tahun Gugurnya Aktivis Hermanto Sitorus Menolak Keberadaan PT Inti Indorayon Utama

by -4,354 views

Oleh: Pirlen Sirait

HARI ini Senin 21 Juni 2021, mengingatkan 21 tahun sudah meninggalnya aktivis Hermanto Sitorus. Dia meninggal saat melakukan aksi demo penolakan keberadaan PT Inti Indorayon Utama (IIU/Indorayon) yang sekarang sudah berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari.

Saat itu, kami siswa Kelas II SMK Mesin Automotiv Parulian 4 Porsea. Almarhum adalah salah satu siswa yang sedang melaksankan Praktek Kerja Lapangan di salah satu bengkel mobil di Jalan Pararung Porsea mulai 20 Maret 2000 sampai dengan 20 Juni 2000.

Satu hari setelah program pendidikan sistem ganda itu selesai, Hermanto Sitorus meninggal tepatnya 21 Juni 2000. Saya sebagai teman satu kelas di sekolah sangat terkejut mendengar kejadian itu. Namun apa daya informasi meninggalnya almarhum saya ketahui setelah kembali ke sekolah dan duduk di kelas III MO II YP Parulian 4 Porsea.

Dua tahun kami bersama dalam satu ruangan sejak duduk di Kelas I SMK hingga kelas II SMK dan terpisah sejak PKL. Almarhum Hermanto Sitorus adalah sosok yang pendiam dan sangat tegas serta memiliki keberanian yang cukup dan disegani oleh teman-teman.

Tidak hanya disitu, sejak keberadaan PT TPL di Kabupaten Toba, sebelumnya yang saya alami sendiri pada Tahun 1994 selama 3 hari kami sekeluarga mengungsi ke Siantar, akibat tersebarnya informasi adanya kebocoran tangki di perusahaan tersebut.

Teriakan-Teriakan yang terngiang kala itu “Indorayon meledak, Indorayon meledak hingga menyebabkan kepanikan kepada masyarakat termasuk keluarga kami yang harus berjalan kaki dari Desa Biusgu Barat Kecamatan Parmaksian menuju Porsea untuk mengungsi ke Siantar.

Saat itu tujuan orang tua saya mengungsi adalah ke Kota Medan dengan alasan agar jarak lebih jauh dan terhindar dari bencana yang menurut orang tua saya harus dihindari demi keselamatan. Tapi kala itu angkutan menuju Medan penuh dan belum lagi ongkos yang sangat mahal, hingga memutuskan mengungsi ke Siantar sekitar pukul 21:00 baru kami bisa dapat angkutan.

Berlanjut lagi di tahun 1998 aksi-aksi penolakan keberadaan PT. IIU terjadi.
Gagal panen padi, awal kemarahan masyarakat dan saya selaku anak petani merasakan betul penurunan hasil panen padi saat itu.

Beragam pendapat yang menyebar ke masyarakat soal keberadaan PT IIU/Indorayon. Salah satu penyebab mulai dari gagal panen, kerusakan atap rumah hingga berdampak buruk pada kesehatan masyarakat dengan uap bau yang kita rasakan saat itu.

Yang saya rasakan dan lihat serta dengarkan saat itu ternyata tidak terhenti sampai disitu. Sejak Mei 2021 melalui informasi di media sosial terdengar kembali nama PT TPL.

Mulai dari masalah antara PT TPL dengan masyarakat Natumingka dan berkumandang kembali teriakan dan aksi para masyarakat, mahasiswa yang mengumandangkan #TutupTPL, #PalaoTPL.

Yang lebih menarik perhatian saya aksi jalan kaki dari Kabupaten Toba ke Jakarta untuk menemui Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Aksi jalan kaki dilakukan oleh Togu Simorangkir, Anita Hutagalung dan Irwandi Sirait.

Sebagai putra Toba, saya berharap kejadian puluhan tahun silam tidak terulang kembali, hindari perpecahan, hindari gesekan apalagi permusuhan antar sesama masyarakat.

Tujuan tulisan saya ini mengingatkan kita kembali dan mengenang almarhum Hermanto Sitorus yang meninggal 21 tahun lalu akibat terkena peluru saat melakukan aksi. Hingga saat ini saya sendiri belum mengetahui siapa pelaku dan apa hukumanya saat itu. (*)

Penulis Adalah Wartawan Koran Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.