Ragam Kue Tradisi Tahun 80-an, Dari Kue Lapan Sampe Mangalomang

Umum3017 Dilihat

KUE Lapan (delapan) itu seketika berubah jadi kue nol. Gigitan bocah itu sukses memakan separoh, menyisakan setengah tertinggal di tali ikatan ibus yang tergantung. Kue lapan ini jadi incaran kami para bocah di tengah hausnya konsumsi/jajan.

Para orangtua masih menggantung sembarangan kue berbentuk angka delapan ini sebelum diberi gula pasir. Begitu kue itu dilumuri gula pasir, ia akan berpindah tempat untuk dipersiapkan sebagai kue lebaran.

Sasaran lain gigitan bocah sebaya saya di era 80-an adalah gula merah berbentuk bulat. Pinggirnya itu digigit kemudian diisap-isap, pengganti permen. Bekas gigitan itu bikin kita para bocah tidak bisa mengelak ketika mendapat teguran keras dari orangtua. Karena model gigi si anak membekas di gula merah itu. Gigitan gigi boneng, jorge dan gigi rapi tampak jelas di bekas gigitan. Gula merah itu dipersiapkan buat bikin ulame, dodol khas Tapanuli Selatan.

Bubur ulame ini termasuk incaran utama kami. Setengah jadi atau masih berbentuk bubur, para bocah berkumpul di sekitar kuali bawa tempurung (takar) sebagai tempat makanan tersebut. Ulame ini kue andalan masyarakat Padang Bolak sekitarnya. Kue ini jadi oleh-oleh balik para perantau yang pulang kampung.

Selesai ulame, incaran berikut pada esok harinya kue tuangan. Melihat penggorengan mendidih merendam kue itu bikin kita menelan ludah. Para orangtua membagikan satu dua tuangan biar para bocah menjauh dari tungku api itu. Sisa bahan kue tuangan yang tidak terpakai akan dijadikan kue cucur oleh anak-anak perempuan.

Acara bikin kue ditutup dengan mangalomang, sehari sebelum lebaran. Mangalomang pertanda hari terakhir puasa. Kenangan desa begitu melekat dalam ingatan. (Erman Tale Daulay/Asal Desa Siunggam Paluta/Kini Tinggal di Depok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *