Pasar Siunggam di Era 80, Menanti Para Gadis dari 8 Penjuru Mata Angin

Umum1851 Dilihat

PARA remaja itu (poso-poso hambeng) tumbuh dari rakyat jelata. Kesehariannya tidak terlepas dari sabung ayam alias palago manuk dan perkelahian. Kegetiran hidup membuat mereka dewasa lebih cepat.

Di hari Jumat ini, para pemuda itu bergerombol ke Pasar Siunggam Paluta Tapanuli bagian Selatan yang hari ini menggelar pasar keliling alias “hari poken”. Mereka bergerak dari ujung ke ujung. Timur ke barat, utara ke selatan atau yang populer kini disebut blusukan.

Mereka menanti kedatangan para gadis dari delapan penjuru mata angin yang siap-siap untuk digoda, disebut mangepet.
Dari wilayah barat, muncul gadis dari dèsa tangga hambeng, aek bayur dan aek tolong; wilayah timur, saya termasuk yang setia menunggu kedatangan rombongan yang masuk dari Siunggam Jae, Muara dan Purba Tua. Sebab dari wilahah ini banyak boru tulang ku Boru Harahap yang gayanya menyedot perhatian; dari selatan saya lihat dari kejauhan turun penumpang dari Sipupus, Pamuttaran, Balimbing dan Sobar; begitu juga dari utara tampak pengunjung dari Sibatang Kayu, Aek Suhat dan Sigama.
Pasar yang tidak begitu luas itu pun penuh dikepung warga yang memborong keperluan belanja seminggu ke depan.

Saya menerobos keramaian melewati lorong-lorong dan memperhatikan deretan “kios-kios” (sekelas danga danga) yang menjual pakaian, sayur ikan, makanan/minuman dan buah buahan hapundung, jottik jottik, rambe, sihim dan salak.

Di pojok pasar terdapat tempat para pria meminum tuak atau cuka, minuman keras bersumber dari pohon aren/kelapa. di ujung seberang juga terdapat permainan judi janggar-janggar. Pasar ini tergolong lengkap untuk ukuran sebuah desa.

Momen yang tidak ingin saya lewatkan adalah ketika para pemuda mangepet gadis. Ada yang cot, dan ada juga yang gak diterge atau dicuekin.

Para pemuda biasanya “parkir” di bawah pohon kelapa sembari menanti kaum hawa yang mengilingi pasar juga berkelompok. Begitu berpapasan, mereka pun digoda para pemuda tersebut. Untuk membuka pembicaraan, para pemuda main asal panggil saja dengan sebutan, “biade ujing” (hallo tante). Satu dua diantaranya sukses membangun dialog, sebahagian gak kebagian alias nadapotan.

Malah ada yang kena semprot, ia panggil biade ujing, rupanya bertutur nattulang. si cewek sewot dengan berujar, ” marsopan me ho gappang. ujing ujing ni babami, iboto ho de sanga use mu au. hu paboa naron tu amang mu su diboto ho (sopan dikit kau).

Ungkapan yang jadi senjata untuk nembak si cewek adalah, Adong do rohakku di ho da (aku ada hati sama kamu). Bila si cewek merespon dengan kalimat, pola ma baya giot ho songon au on ( mana mungkin mau kau gadis macam aku ini), itu berarti si cewek beri peluang, silahkan pepet. Mantaf. (Erman Tale Daulay, Asal Desa Siunggam Paluta, Kini Tinggal di Depok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *