Penerapan Metode Bud Chips Dalam Budidaya Tebu

Umum1728 Dilihat

Oleh Maftuhah Nur Wahyu
Prodi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 

TEBU merupakan tanaman  penghasil gula sebagai sumber karbohidrat yang kebutuhannya terus berkembang seiring meningkatnya populasi. Namun, peningkatan konsumsi gula tidak dapat diimbangi oleh produksi gula dalam negeri. Rendahnya konsumsi gula di Indonesia bisa kita lihat dari sisi on farm, diantaranya penyiapan bibit dan kualitas bibit. Penyiapan bibit yang dilakukan dengan metode konvensional (bagal) sangat berpengaruh terhadap waktu pembibitan karena hal tersebut membutuhkan waktu selama enam bulan penanaman.

Selain penyiapan bibit, kualitas bibit juga di perlukan karena sangat penting dalam menentukan pertumbuhan, produktivitas, dan ketahanan tanaman. Karena dengan kualitas bibit yang unggul akan mempengaruhi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pada tanaman terutama pada budidaya tebu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia telah memproduksi tebu mencapai 2,41 juta ton pada tahun 2022. Jumlah tersebut lebih banyak 2,45% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 2,35 juta ton. Perkebunan rakyat telah memproduksi tebu mencapai 1,25 juta ton pada tahun 2022. Sedangkan, perkebunan besar telah memproduksi sebanyak 1,15 juta ton.

Terdapat 6 provinsi di Indonesia yang memproduksi tebu pada tahun 2022. Produksi terbanyak berasal dari Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur dan Yogyakarta.

Faktor yang mempengaruhi terbatasnya produksi gula adalah karena kurangnya lahan untuk budidaya tebu. Meskipun areal pertanaman tebu yang ada saat ini terus bertambah, namun kebutuhan gula nasional dan internasional tidak dapat tercukupi. Kurangnya pasokan tebu yang masuk dan pertumbuhan bibit yang rusak dikarenakan terbatasnya produksi gula.
Metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi tebu adalah memperoleh bibit yang bagus.

Salah satu perkebunan penghasil tebu dan produsen gula bagi Indonesia (PTPN II) yang menggunakan metode bud chips pada pembibitannya untuk meningkatkan produksi tebu. Bud Chips merupakan proses pemangkasan dan pemotongan bagian atau tanaman tebu yang mengandung mata tunas yang baik. Bibit yang baik untuk digunakan dalam metode Bud Chips adalah bibit umur 5–6 bulan, murni, bebas dari hama 7 penyakit, dan tidak mengalami kerusakan fisik.

Tahap sortasi bibit (mata tunas) harus dilalui dalam metode ini. Mata tunas ini kemudian digunakan untuk perbanyakan tanaman baru melalui metode okulasi atau pemasangan mata tunas pada batang tanaman tebu yang sudah ada.

Dalam menanam tebu salah satu yang harus diperhatikan adalah bahan tanamannya, yaitu bibit tebu itu sendiri. Bibit tebu merupakan bagian dari tanaman tebu yang diperoleh dari pembibitan yang terawat dan bahan tanaman yang dapat dikembangkan untuk penanaman tanaman baru. Bibit tebu terbagi menjadi tiga kelompok berdasarkan waktu kemasakan, yaitu masak awal, masak tengah, dan masak akhir.

Penentuan komposisi bibit biasanya tergantung pada iklim, kondisi lahan, masa tanam, tingkat kematangannya, serta lamanya musim giling. Bibit tebu yang akan ditanam diharapkan memiliki kriteria yaitu: mempunyai potensi menghasilkan berat tebu dan rendemen tinggi, mempunyai tingkat kemurnian varietas tinggi (>90%), tahan dari hama dan penyakit yang serangan, memiliki nilai perkecambahan tinggi, mentolerir kekeringan dan kekeringan, dan tidak runtuh.

Benih konvensional umumnya banyak digunakan oleh banyak pembudidaya karena tidak memiliki biaya yang mahal dibandingkan dengan sistem pembibitan modern dimana alat dan bahan yang digunakan cukup mahal.

Sistem Pembibitan Bud Chip
Varietas tebu bermata satu (One Bud) disemai terlebih dahulu di substrat pada umur 15 hari atau dengan 2 helai daun kemudian dipindahkan ke wadah atau polibag. Menggunakan bibit tebu kualitas tinggi pada satu hektar kebun menghasilkan 50-60 ton bibit yaitu 350 ton.

Kebutuhan bibit bud chip dalam satu hektar pertanaman baru diperlukan 12. Sehingga dalam 1 hektar luasan 8 kebun bibit yang datar mampu memenuhi kebutuhan areal tanam baru mencapai 29- 35 ha.
Bibit yang dihasilkan dari metode bud chip mempunyai keseragaman pertumbuhan dan sehat sehingga pada awal pertumbuhan tanaman akan maksimal.

Cara Penanaman Sistem Bud Chip
Persiapan bahan tanaman dengan memilih tanaman tebu yang sehat dan bebas dari penyakit. Pastikan tanaman tebu tersebut memiliki tunas atau mata yang berkualitas untuk diambil. Kemudian memilih tunas yang matang dan pastikan tunas memiliki mata yang aktif dan berkembang dengan baik. Pilih batang atau akar tebu yang akan menjadi tempat penyambungan dengan memotong bagian batang atau akar secara horizontal dibuat sayatan kecil pada batang atau akar dengan menggunakan pisau.

Tempatkan tunas tebu yang telah dipotong dengan hati-hati ke dalam sayatan pada batang atau akar induk. Pastikan mata tunas yang aktif berada di luar batang atau akar induk. Jepit dan ikat tunas dengan rapat menggunakan tali elastis atau bahan pengikat lainnya. Pastikan penyambungan yang kuat dan erat agar tunas dapat berintegrasi dengan baik.

Setelah penyambungan, lindungi area penyambungan dengan menggunakan lilin atau bahan pelindung lainnya untuk mencegah infeksi penyakit. Pastikan tanaman mendapatkan sinar matahari yang cukup dan perawatan yang tepat seperti penyiraman dan pemupukan. Monitor pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara teratur. Pembibitan bud chip sebaiknya dilakukan pemeliharaan selama 2-3 bulan dikebun bibit, agar pertumbuhan bibit bibit bud chip dapat tumbuh dengan normal sebelum dipindahkan ke lapang.
Metode Bud Chips ini telah digunakan luas oleh petani dan tukang kebun karena beberapa kelebihannya.

Namun, seperti halnya teknik perbanyakan lainnya, metode Bud Chips juga memiliki kekurangan yang perlu dipertimbangkan.
Metode Bud Chips memungkinkan produksi tanaman yang lebih cepat dibandingkan dengan metode tradisional seperti stek. Dengan menyatukan pucuk tanaman yang memiliki karakteristik yang diinginkan, petani dapat menghasilkan tanaman baru dengan sifat-sifat yang sama. Ini termasuk sifat-sifat seperti kekuatan, produktivitas, resistensi terhadap penyakit atau hama, atau kualitas yang unggul.

Petani dapat menggunakan metode Bud Chips untuk menghasilkan berbagai varietas tanaman sesuai dengan kebutuhan pasar atau preferensi konsumen.
Meskipun memiliki banyak kelebihan, metode Bud Chips juga memiliki beberapa batasan. Setelah penyatuan pucuk dilakukan, tanaman membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sembuh sepenuhnya dan berkembang dengan baik.

Proses penyatuan pucuk dalam metode Bud Chips dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan pencahayaan. Dalam mengimplementasikan metode Bud Chips, penting untuk memahami kekurangan-kekurangan ini dan melakukannya dengan hati-hati agar dapat mencapai hasil yang diinginkan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *