Uraian Perbedaan Usia Pernikahan di Indonesia

Umum1669 Dilihat

PERNIKAHAN adalah sesuatu yang disyariatkan oleh Nabi Muhammad, dimana hukumnya terdapat dalam al￾Qur’an dan Sunnah. Nikah menurut pendapat ahli fiqh adalah komitmen sebagai cara agar sah melakukan hubungan seksual. Pernikahan sangat dianjurkan oleh Islam, maka dari itu pernikahan adalah sesuatu yang dianggap sakral meskipun di dalam kitab fiqh mengartikan nikah hanya dengan menggunakan kata’kata akad saja.

Pernikahan adalah ikatan yang kokoh yang menyatukan dua insan, lelaki dan perempuan dalam sebuah komitmen membangun rumah tangga. Pernikahan menciptakan adanya hubungan antara
dua keluarga besar dan menjadikan kehidupan manusia tersebut dengan menjaga keturunan. Kebanyakan
pernikahan atau rumah tangga disebut sebagai bagian terkecil sebagai terwujudnya sebuah bangsa.

Oleh karena itu, pernikahan adalah salah satu dari permasalah muamalah. Apabila kita bedakan dengan batasan usia calon mempelai di beberapa negara kecuali India, Indonesia secara umum belum menjadi yang tertinggi. Batasan usia pernikahan ini sudah menjadi kedewasaan dan menjadikan jiwa seseorang dalam konsep islam tampak lebih ditunjukan pada aspek fisik.

Berdasarkan ilmu pengetahuan, setiap daerah dan zaman memiliki perbedaan dengan zaman yang lain, yang sangat berakibat terhadap cepat atau lambatnya
usia kedewasaan seseorang. Perbedaan usia pernikahan ini terjadi disebabkan oleh Al-Qur’an maupun Hadits tidak secara nyata menetapkan usia nikah. Namun secara umum tercatum bahwa pernikahan
adalah salah satu ciri kedewasaan seseorang.

Hal ini dapat dilihat dalam tanggung jawab hukum taklif bagi seseorang, yang dalam teknis disebut mukallaf atau diaggap mampu menanggun beban hukum. Batas
ideal usia calon mempelai untuk menikah adalah 25 tahun untuk laki-laki dan 20 tahun untuk perempuan atau sekurang-kurangnnya 18 tahun walaupun pendapat ini tidak mutlak di jelaskan dalam Al-Qur’an
ataupun sunnah.

Perkawinan anak di bawah 18 tahun secara luas diakui dalam perjanjian hak asasi manusia secara garis besar yang berbahaya dan terbatas. Pemerintah melarang pernikahan anak dan menutup celah hukum yang membolehkan pernikahan di bawah usia 18 tahun. Tingginya angka
perkawinan anak perempuan yang tidak terhingga dibandingkan dengan anak laki-laki. (Zhafira Alya Stabitha Rambe/ mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *