Tubuhku Diguyur Getah Karet Pangaranbira, Sosopan (2)

Umum1218 Dilihat

ITULAH yang mebuat orang menyinyiri kami. Karena abangku itu dianggap tidak tahu diri. Besar pasak dari tiang. Sudah miskin masih bercita- cita sekolah di perguruan tinggi.

Orang pun mencibir kami. ” Hai Alupia ( itu nama kecil ayahku).” Di kampungku Pagaranbira ada dua nama yang disandang setiap orang. Nama sejak lahir dan nama setelah menikah. Nama kecil itu nama yang dibawa lahir.

“Jika kau sanggup menyekolahkan anakmu itu potong kuping ini,” kata seorang yang keadaan ekonominya jauh lebih baik dari keluarga kami.

Di lapo ayah menjadi pergunjingan. Berani beraninya si Alupia menyekolahkan anak ke perguruan tinggi, untuk mencari makan sehari hari sudah susah, cibir orang.

Sejak abang sekolah di UNUSU, tak lagi ada waktu ayah untuk bermasyarakat, apalagi duduk di lapo minum kopi.

Pagi pagi pukul 05.00, hari masih sangat gelap ayah sudah berangkat ke ladang untuk menyadap karet.

Pulang menyadap karet sekira pukul 13.00 Ia langsung pergi ke gunung Halotan untuk membuka kebun baru.

Pulang sudah jelang shalat Isa. Itu berlangsung hampir 7 tahun hingga abang lulus kuliah di UNUSU.

Suatu hari ayah jatuh sakit. Ia sakit demam panas. Hari itu ia tak bisa berangkat menyadap karet. Padahal tuntutan kebutuhan sangat mendesak.

Apalagi waktu surat abang datang minta dibayarkan uang kulliah. Tiba tiba mama mendekatiku dan merayu aku untuk berangkat menyadap karet sendirian.

Aku memang sudah bisa menyadap karet. Kata orang di kampungku Mangguris.

” Pergilah nak sendirian. Sedapatnya aja (maksudnya, berapa pohon pun yang bisa aku guris sudah cukup). Nanti kalau kau sudah pulang, menyadap, dan getahnya dikumpulkan, kau boleh bermain dengan teman temanmu. Tak usaha lagi ikut ke sawah,” kata mama merayuku.

Permintaan mama itu aku penuhi. Aku tak pernah menolak permintaan mama. Aku sendiri dapat melihat dan merasakan betapa sulitnya kehidupan kami.

Meski berat hati, karena aku belum pernah menderes karet sendiri. Biasanya aku menderes karet bersama ayah. Tapi kali ini ayahku sakit. Aku harus berangkat sendirian.

Aku mengambil pisau guris, dan kaleng tempat pengumpulan getah. Lalu dengan berlari lari kecil, aku berangkat menuju Mabar tempat kebun karet yang biasa kami sadap. Jaraknya dari rumah lebih kurang 6 Km, melewati kebun karet. Dan terkadang bertemu dengan babi hutan.

Sampai di kebun karet yang akan aku sadap. Jangan bayangkan kebun karet itu seperti perkebunan karet yang dikelolan PTP. Yang tertata rapih. Perkebunan milik rakyat itu seperti hutan belantara. (Bersambung/Imran Nasution)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *