Aku Dihina dan Direndahkan, Tapi Akhirnya Closing 2 Unit

Umum1210 Dilihat

SEPERTI biasa, bagi sales, Sabtu itu, menjadi hari keberuntungan. Menjual barang hari itu keberkahan. Sebab, pengusaha sukses banyak yang berada di rumah. Kesempatan ini menjadi hal yang menarik bagi sales.

Sabtu, menjadi kesempatan emas untuk menjual. Karena peluang untuk bertemu dengan calon pembeli sangat terbuka.

Hari itu manajer kami dari divisi Aqua Guard, mengantarkan kami para sales ke perumahan elit di daerah Kelapa Gading Jakarta Utara.

Divisi ini menyediakan alat penyaring air hingga air dari keran bisa langsung diminum.

Posisi perumahan Kelapa Gading yang dekat dengan laut, dipastikan air tanahnya tidak bagus. Asin dan rasa ‘ ntah’.

Pukul 08.30, setelah briefing mobil yang mengangkut kami melaju ke arah Pulogadung, masuk ke Jalan Perintis Kemerdekaan, lalu masuk ke kawasan Kelapa Gading. Di dekat sebuah taman, mobil minggir dan menurunkan kami.

” Siapa yang berhasil closing hari ini, akan ada hadiah istimewa,” kata manajer kami menjanjikan, sambil masuk ke dalam warung.

Kamipun berpencar, dan mulai memencet rumah-rumah mewah di daerah itu. Saat aku hendak melewati sebuah rumah bercat putih bergaya Gotik Italia, tiba- tiba ada suara memanggil.

Aku pertegas darimana sumber suara yang memanggil itu. Ternyata suara panggilan itu datang dari rumah mewah bergaya Gotik cat putih itu.

Aku coba pastikan, bahwa betul aku yang dipanggilnya. Aku lihat ke arah paviliun rumah itu, seorang setengah baya, bertubuh bersih, sedang melambaikan tangan ke arahku. Aku yakin bahwa akulah yang dipanggil.

Hatiku pun berbunga bunga. Wah pasti closing nih. Mungkin juga sudah ada barang yang aku jual. Aku membatin.

Dengan semangat 45 aku memasuki pintu gerbang rumah mewah itu. Luar biasa. Aku dipersilahkan duduk di salah satu bangku yang tersedia.

Tak pernah aku temui orang sebaik bapak ini di perumahan mewah. Biasanya, setiap kami berkunjung ke perumahan mewah untuk menawarkan barang, baru di pintu gerbang sudah diusir pembantu, dibentak Satpam, digonggong anjing. Itu sudah makanan sehari-hari bagi seorang sales.

Tapi kok bapak ini baik bangat. Ia mempersilahkan aku duduk. Setelah aku duduk, ia memanggil istrinya.

” Mah…sini. bilang sana Mpok dibuatkan kopi,” katanya.

Duh, mimpi apa aku semalam. Kok aku bertemu dengan orang sebaik ini. Kataku membatin. Bahkan sampai aku lupa bahwa aku seorang sales.

Tiba tiba ia pegang dasiku sambil berkata. “Aku salut kepadamu dek. Orang pakai dasi, tas merk presiden, sepatu mengkilap, kok jalan kaki, ya. Kalau pakaian senecis ini setidaknya naik Honda Civic lah (mobil keluaran terbaru saat itu),” katanya.

“Bajunyapun basah keringat,” tambahnya dengan nada merendahkan.

Mendengar penuturannya itu, aku baru sadar, bahwa aku sedang dihina dan dilecehkan, dengan cara yang sangat menyakitkan.

Wajahku tertunduk mendengar kata- kata itu. Espektasiku untuk closing pupus sudah. Aku sedang dihina dan direndahkan. Ini adalah pelecehan terhadap seorang salesmen.

Aku masih terdiam dan terus menunduk memelototi lantai tanpa arti. Pembantu rumah tangga datang membawa kopi panas mengeluarkan aroma menggoda bagi setiap penikmat kopi.

Walau aroma kopi merangsang seleraku sebagai penikmat kopi, tapi, kali ini bagiku kopi itu terasa hambar. Seleraku telah mati dibunuh oleh penghinaan yang sangat memilukan hatiku.

Tiba tiba muncul keberanianku. Aku angkat mukaku yang sejak tadi menunduk. Keberanian seorang sales yang dilatih untuk menghadapi berbagai sikap nasyarakat yang beragam di lapangan. Aku bangkit. Aku angkat mukaku.

Aku tatap matanya sambil aku ngomong. “Iya pak. Aku berpakaian seperti ini karena masyarakat senang dengan yang palsu. Itu sebabnya saya datang ke bapak sebagai seorang yang palsu,” kataku sambil mengisap rokokku dalam-dalam, sampai api di ujung rokokku memerah nyaris menyala.

Aku berusaha menenangkan pikiran dan mencoba rileks. Bapak itu terdiam, dan terus memperhatikan aku. Tanpa satu katapun keluar darinya.

Aku lihat ia sudah menyadari kekeliruannya menghina dan merendahkan aku dengan sengaja.

“Adek ini darimana ya. Tidak seperti sales biasanya,” katanya memotong, saat aku mau melanjutkan omonganku.

“Aku dari Medan. Aku sudah merasakan pahit getirnya hidup di Jakarta ini. Kalau bapak ingin tahu siapa aku yang sebenarnya, jangan lihat baju, dasi, tas dan sepatuku,” balasku.

“Tapi, Imran Nasution ada di dalam baju ini. Dan, dijamin tidak palsu. Tapi, baju, dasi tas dan sepatu ini hanya asesoris yang menipu,” paparku berapi api.

Setelah itu suasana mencair. Ia memperkenalkan diri. Menjelaskan pekerjaan dan apa jabatannya. Dikatakan ia seorang Dirut Bank Plat merah (BUMN).

Cukup lama kami berbincang. Tanpa terasa, kami sampai membicarakan situasi politik saat ini. Meski aku seorang sales, tapi aku tak buta politik. Aku mengikuti perkembangan politik. Termasuk soal agama yang saat itu dikebiri oleh pemerintah orde baru.

Momentum itu juga aku gunakan untuk mempengaruhinya agar ia membeli produk yang aku jual yaitu aqwa guard buatan swedia. Ia memesan dua unit. Satu unit untuk rumahnya dan satu untuk kantor.

Menejer kami langsung memelukku, begitu ia tahu bahwa aku closing dua unit. “Kau harus menceritakan pengalamanmu Senin depan di kantor,” katanya bersemangat.

Menceritakan pengalaman sales yang bisa closing, adalah yang dibudayakan di kantor kami untuk berbagi cerita dengan sales lain.

Ketika Senen, aku tampil ke depan, menceritakan pengalamanku, teman- teman bertepuk tangan. Begitu selesai cerita, teman- teman dari divisi aqwa guard, mengangat aku tinggi tinggi. Sambil menunjukan kebanggaan ke divisi lain.

Di kantor kami ada beberapa divisi, yaitu aqwa guard, vacum cleaner, dan mesin cuci. (Imran Nasution).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *