Belajar Politik “Takko-Takko Mata” dari Siunggam, Padang Bolak, Paluta

Umum1996 Dilihat

BAGI kalangan politisi, istilah dramaturgi tentu sudah tak asing lagi. Dramaturgi secara sederhana dimaksudkan bahwa politisi itu memainkan peran panggung belakang berbeda dengan lakon panggung depan. Dengan kata lain, apa yang terlihat bukan itu yang terjadi.

Begitulah memandang peristiwa politik di kampung ku di Siunggam. Kalau DPR menggelar rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan mitranya, ada peristiwa anggota DPR ribut atau terjadi pertengkaran, boleh jadi itu hanya akting, tetapi sesungguhnya di belakang layar mereka sudah deal. Keributan itu bersifat mengelabui.

Contoh lain, dalam undian nomor pasangan bupati, para calon tampak harmonis dan akrab, siapa tahu mereka sesungguhnya sudah siap saling menghabisi. Jadi keakraban yang dipamerkan itu hanya sandiwara. Dan dunia memang panggung sandiwara. Uchhhh…

Tapi semua permainan di atas bagi kami masyarakat desa Siunggam, Tapanuli Bagian Selatan, bukan hal yang baru, malah itu tergolong jadul atau kuno. Jauh sebelum negeri ini merdeka, leluhur kami sudah main politik takko-takko mata dalam sebuah pernikahan.

Takko-takko mata secara harfiah artinya curi pandang, tetapi makna sesungguhnya dimaksud “pura-pura tidak tahu, padahal tahu”, “Inda tarida mata, tai di ida roha (tidak terlihat secara kasat mata, tetapi diketahaui hati atau bathin).

Politik takko-takko mata itu sebuah strategi memuluskan pernikahan. Calon pengantin dianjurkan kawin lari, kemudian keluarga wanita pura-pura heboh. Ibunya menangis hebat begitu dapat kabar anak perempuannya kawin lari lewat sebuah “abit partading”.

Ibu itu tampak betul-betul terpukul dengan kejadian itu. Padahal ia sudah tahu rencana itu semua. Akting suaminya jauh lebih meyakinkan lagi, ia meminta keluarga besarnya menggelar rapat dengan agenda untuk menarik kembali anak gadisnya dari tangan si pria calon menantunya. Padahal ia juga sudah tahu rencana kawin lari itu.

Takko-takko mata ini dimaksudkan untuk memuluskan rencana pernikahan, menghindari perdebatan jumlah mahar atau boli yang sempat berbelit-belit berkepanjangan. Kemudian menjaga kehormatan di belakang hari, kalau terjadi keributan di keluarga, tidak ada klaim bahwa pernikahan itu pemberian atau persetujuan murni orangtua si cewek.

Pihak menantu tidak ‘dimanjakan” oleh sebuah kewajiban dan aturan adat istiadat. Singkatnya, apa yang terlihat bukan itu yang terjadi. orangtua si cewek yang tadi marah secara terlihat mata, tetapi sesungguhnya semua langkah peristiwa sudah dia ketahui.

Langkah Takko Takko Mata biasanya ditempuh, anso ulang losap adat. Maksudnya, adat disederhanakan karena terjadi percekcokan di birokrasi boli dan prosesi adat. Atau satu keluarga inti setuju, tetapi keluarga inti lain menentang. Diambungkon jait tu napotpot: inda tarida mata, tai tarida roha. (Erman Tale Daulay dari Desa Siunggam, sekarang tinggal di Depok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *