Kenangan di Kantor Pusat Pemerintahan Kota Bekasi, Saat Mana Kerah Bajuku Ditarik Humas

Umum1024 Dilihat

DULU wartawan yang bertugas di Bekasi tahun 1990 hingga 2000, menyebut gedung ini sebagai ‘ gedung putih’. Tentu tidak dimaksud untuk mensejajarkan gedung ini dengan gedung putih di Washington DC Amerika. Tapi karena gedung ini dulu ber-cat putih. Semua kantor di kompleks ini juga bercat putih.

Hampir 15 tahun lamanya, aku tak berkunjung ke pusat pemerintah Kota Bekasi ini. Sebelum pemekaran, gedung ini ditempati oleh pemerintah Kabupaten Bekasi. Setelah pemekaran, kantor bupati pindah ke pusat pemerintahan di Cikarang Pusat, dan kompleks ini bersama gedung gedung yang terdapat di dalamnya, ditempati Pemerintah Kota Bekasi.

Di komplek pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi ini, dulu terhimpun semua kantor dinas, instansi, baik vertikal maupun horizontal, termasuk DPRD. Yang tidak masuk dlm kompleks pemerintahan ini adalah Kantor Polres, Kejaksaan, Pengadilan, Dandim. Sedang Departemen Agama, Kandikbud, BPS, Samsat ada di ring satu.

Perkantoran yang terpusat itu sangat membatu masyarakat Bekasi jika ada urusan. Karena perkantoran ada dalam satu komplek.

Di lantai 2 sebelah kiri waktu itu terdapat ruangan Bupati Suko Martono. Ia termasuk bupati termuda dan tertampan di Indonesia, saat itu.

Bupati Suko Martono ( almarhum), tak pernah memperhilatkan kemarahannya kepada wartawan. Meski sesungguhnya ia betul-betul sangat marah.

Ketika itu, staf Humas berkantor pukul 05.30. Tugasnya mengumpulkan semua koran dan majalah. Lalu memeriksa berita yang terkait dengan Bekasi. Berita itu dikliping.

Semua berita kliping sudah harus ada di meja bupati pukul 06.30. Itu rutin dilakukan setiap jam kerja.

Klipingan itu nanti dibaca bupati Suko Martono. Kalau ada berita penting biasanya akan memanggil pejabat yang menjadi objek pemberitaan. Momen itu biasanya pejabat yang kurang profesional menjalankan tugasnya akan kena damprat bupati.

Ketika itu wartawan merasa sangat terhormat. Karena kritikan dan masukan dari wartawan benar- benar mendapat perhatian bupati maupun pejabatnya.

Aku lama memandangi gedung itu. Aku teringat ketika kapala bagian Humasnya (sengaja tak saya sebut namanya) memegang dan menarik kerah bajuku, menuju ruang bupati, waktu itu, bupatinya sudah Djamhari yang menggantikan bupati Suko Martono. Ia sangat marah dan sangat tersinggung kepadaku karena berita tentang pungutan utilitas pendidikan dan kesehatan saya tulis.

Namun setelah saya jelaskan, ia lalu memanggil kabag Hukum untuk menanyakan soal legalitas pungutan itu. Setalah ia paham, akhirnya, ia minta maaf.

Di gedung yang kini sudah menjadi cat hijau, teman- teman yang dijuluki sebagai kuli tinta, sering berkutat memburu berita, wawancara dengan pejabat, dan terkadang, terbahak-bahak di kantin yang ada di komplek pusat pemerintahan Bekasi itu.

Ketika pekan lalu tepatnya 2 November, MUI, Dewan Da’wah, serta ormas Islam melaksanakan shalat Istisqo bersama Pemkot Bekasi, aku ikut shalat dan masuk ke kompleks Pemkot ini. Aku masuk ke komplek itu setelah 15 tahun aku tak pernah lagi ke komplek itu.

Ketika aku masuk, yang aku saksikan nyaris tak ada perubahan gedung. Yang berubah hanya cat gedung dari putih ke hijau. Dan, kantor PU, Dinas Pasar, dan Dinas Pertanian, berubah menjadi gedung 10 lantai. (Imran Nasution)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *