MUI Sumatera Barat, Tanpa APBD Roda Organisasi Tetap Hidup

Umum1262 Dilihat

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi mengadakan kunjungan silaturahmi ke MUI Sumatera Barat dan Kota Padang. Pada hari pertama, Senin, 2 Oktober 2023. MUI Kota Bekasi menuju Sumatera Barat. Pemberangkatan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta pada pukul 07.00 WIB dan sampai di Bandara Internasional Minangkabau pada pukul 09.00.

Sesampainya di Bandara Internasional Minangkabau, para rombongan yang terdiri dari pengurus harian MUI Kota Bekasi dan juga tamu undangan, Kesbangpol Kota Bekasi menuju MUI Provinsi Sumatera Barat pada pukul 14.00 WIB, yang berlokasi di sekretariat MUI Sumatra Barat, lantai 2 komplek Mesjid Agung Nurul Iman Padang.

Ketua Umum MUI Provinsi Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar. Bidang Perempuan Rosniati Hakim, Sekretaris MUI Fauziah Fauzan, Ketua Bidang Dakwah dan Informasi Ahmad Kosasi, Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Awis Karani, dan anggota Komisi Fatwa Zulheldi  turut serta menyambut kedatangan MUI Kota Bekasi.

Adapun niat dari kunjungan silaturahmi ini adalah untuk mempererat silaturahmi antar MUI dan juga memperdalam wawasan islami. Dalam pertemuan ini acara dipimpin Wakil Ketua Umum MUI Kota Bekasi KH Sukandar Gozali dan Ketua Umum MUI Provinsi Sumatera Barat Buya Gusrizal Gazahar.

Buya Gusrizal Gazahar menjelaskan beberapa point peogram kerja MUI Provinsi Sumbar. Yang paling mendasar dari program- program MUI Provinsi Sumbar adalah fokus dalam melanjutkan gerakan ulama terdahulu dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi dan juga aliran- aliran sesat.

Adapun Sumber dana kegiatan MUI Provinsi Sumbar adalah 100% murni sumber daya umat, jadi tidak ada bantuan dari APBD manapun. “Tetapi alhamdulillah segala kegiatan- kegiatan bisa terlaksana dengan baik. Hubungan antara ulama- ulama Sumbar dengan penguasa dekat sebagai yang akan memberikan penerangan, arahan, dan nasehat, tetapi di sisi lain bisa menjadi mitra yang akan menguatkan langkah- langkah islah umat dan bangsa,” ujar Buya Gusrizal.

Toleransi di Provinsi Sumbar juga, kata Buya, sangat baik dan harmonis, walaupun ada saja perbedaan- perbedaan pendapat dalam masalah tertentu. Tetapi selalu dipecahkan dengan musyawarah bukan dengan benturan atau kekerasan, itu yang sampai hari ini masih dijaga.

Adapun penyebab kantor MUI Provinsi Sumbar pernah ditutup pada periode Buya Gusrizal Gazahar tahun pertama, itu dikarenakan ada kendala di dalam pendapatan sumber dana.

“MUI Provinsi Sumbar berkeinginan untuk mengingatkan umat kembali, bahwa lembaga ini bukan lembaga pemerintah tetapi lembaga keumatan yang bermitra dengan pemerintah. Tentu harus diingatkan dalam hal ini, umat merasa memiliki atas lembaga mereka. Itulah tujuannya kantor MUI ditutup, umat akhirnya paham bahwa MUI adalah bagian dari mereka, Alhamdulillah dengan cara ini umat paham bahwasannya kegiatan- kegiatan MUI adalah kegiatan- kegiatan untuk mereka,” lanjutnya.

Buya Gusrizal pun mengakui bahwa pertanyaan mengapa MUI Sumbar tidak ada PKU (Pendidikan Kader Ulana) itu karena pihaknya mengkaderkan para mahasiswa ke Universitas Al- Azhar Cairo Mesir.

“Kami menganggarkan kepada pemerintah Sumbar untuk membeli rumah bagi para pelajar Minangkabau yang ada di sana. Tapi setelah ada rumah, kembali jadi tidak terurus, lagi-lagi karena kita kekurangan dana. Kami MUI Sumbar ini bukanlah  lembaga yang mau menghabiskan anggaran. Tidak, kami memang tidak punya anggaran dari APBD tetapi kami tetap mampu berdiri sampai sekarang,” papar Buya Gusrizal. (Fanny)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *