Nasehat Buat Penegak Hukum: Syurthah (Polisi, Tentara, Jaksa, Hakim) Akhir Zaman

Umum271 Dilihat

MELIHAT berita aksi yang digelar para tokoh negara: Prof Dr Din Syamsuddin MA dan lainnya, para mahasiswa juga pelajar dan rakyat Indonesia yang menolak lecurangan pemilu, dihadapi langsung tindakan anarkisme oleh aparatur penegak hukum yang mana ada korban dipukul dan ditangkap. Salah satu Korbannya Bang Nico Silalahi yang sedang orasi dipukuli dan ditangkap pada 19 Maret 2024.

Apakah saat ini aparat musuh rakyat yang ingin perubahan dan menolak pemilu curang, bahkan menolak sistem dinasti politik di negara ini? Ingat wahai aparat hukum terutama kepolisian, musuh rakyat itu bukan kalian. Segeralah kalian bertaubat dan pro pada rakyat, bukan membela rezim yang bersikap anarkisme seperti preman.

Jangan kalian beralasan bahwa; “kami hanya menjalankan tugas”.

Jauh-jauh hari Rasululloh telah mewanti-wanti terhadap profesi Syurthah (polisi, tentara, jaksa, hakim) yang sangat mengerikan.

Nabi Muhammad bersabda :

“سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ *شرطَةٌ*، يَغْدُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ بِطَانَتِهِمْ”.

”Akan datang di akhir zaman adanya aparat berseragam (polisi, tentara, jaksa, hakim dan sejenisnya) yang di pagi harinya di bawah kemurkaan Alloh, dan sore harinya di bawah kebencian Alloh. Hati-hatilah kalian menjadi bagian dari mereka.”

(HR. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 7616. Imam Al Munawi mengatakan: shahih. Lihat At Taisir bi Syarh Al Jaami’ Ash Shaghiir, 2/192)

Imam Al Munawi Rahimahulloh mengatakan : Mengutip dari An Nihayah bahwa :

Polisi, TNI, Jaksa, Hakim dan aparat berseragam lainnya dinamakan Syurthah karena mereka memiliki ‘alamaat_ (tanda pengenal, seperti kostum seragam dan tanda atribut serta pangkat lainnya).

Maka, jadilah pelindung dan pengayom rakyat (Ummat) yang membutuhkan jaminan tegaknya keadilan, keamanan dan kesejahteraan yang sebenar-benarnya dan setulus-tulusnya.

Jangan justru menjadi musuh umat atau rakyat, mendukung Rezim Curang dalam Pemilu, pelindung kejahatan dan kemungkaran, kebatilan dan ketidak adilan, agar turun ridha, rahmat, hidayah dan berkah dari Alloh kepada kalian dan keluarga kalian_.

Kepada para aparat keamanan (polisi, tentara) dan para penegak keadilan yang berbuat dzalim atau yang membantu rezim/penguasa yang dzalim.

Kelak di akhirat kalian akan ditanya tentang kedzaliman kalian dan kalian akan dilemparkan ke neraka lebih dahulu sebelum atasan yang memerintahkan kedzaliman kepada kalian, dilemparkan pula ke dalam neraka.

Al Imam Ibnu al Jauzi Rahimahulloh menyebutkan dalam kitab Manaqib Al Imam Ahmad dan Ibnu Muflih dalam Al Furu’ dinukil dari riwayat Al-Marwadzi;

Ketika Imam Ahmad bin Hambal dipenjara oleh penguasa dzalim yang mengkriminalisasi dirinya (karena berbeda pendapat), seorang sipir penjara bertanya, “Wahai Imam, apakah hadits-hadits ancaman terhadap aparat pembantu penguasa dzalim itu shahih?”

Beliau menjawab, “Iya shahih”.

Sipir tersebut bertanya lagi. “Apakah menurut anda saya ini termasuk pembantu orang dzalim?” Karena saya hanya sekedar melaksanakan tugas.

Imam Ahmad menjawab, “Oh bukan. Yang termasuk pembantu kedzaliman itu yang melayanimu, yang menyiapkan masakan makanan dan minuman anda, yang menyiapkan pakaianmu dan menyediakan keperluanmu sehari-hari. Mereka itulah pembantu orang yang dzalim.

Sedangkan anda adalah pelaku kedzaliman itu sendiri”.

Alloh berfirman:

…وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْۤا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَا بَ ۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْد الْعَذَابِ.

“… Sekiranya orang-orang yang melakukan kedzaliman itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa sebenarnya kekuatan itu semuanya milik Alloh dan bahwa sesungguhnya Alloh sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal)”.
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 165)

اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَا بَ وَ تَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَا بُ.

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti (atasannya) berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus”.
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 166)

وَقَالَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا لَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّاَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوْا مِنَّا ۗ كَذٰلِكَ يُرِيْهِمُ اللّٰهُ اَعْمَالَهُمْ حَسَرٰتٍ عَلَيْهِمْ ۗ وَمَا هُمْ بِخٰرِجِيْنَ مِنَ النَّارِ.

“Dan orang-orang yang mengikuti (yang menjalankan perintah) berkata, Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka (atasan yang dzalim), sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami. Demikianlah Alloh memperlihatkan kepada mereka akibat perbuatan mereka yang menjadi penyesalan mereka. Dan mereka tidak akan keluar dari api neraka”.
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 167)

Dalam Al-Qur’an dan Hadits di atas, terdapat kesimpulan pelajaran sebagai berikut:

1. Para aparat pembantu penguasa yang dzalim tidak akan bisa mengelak dengan berkata bahwa mereka hanya sekedar melaksanakan perintah/menjalankan tugas (atasannya atau pemimpinnya)”.

2. Para aparat yang melaksanakan perintah rezim/penguasa dzalim untuk berbuat dzalim, maka mereka juga termasuk diantara orang-orang yang dzalim itu sendiri.

3. Yang dimaksud dan termasuk pembantu orang dzalim diantaranya adalah istri orang dzalim tersebut, anak-anaknya atau maulanya (pembantu) dari orang yang dzalim tersebut yang turut melayani keperluannya, menyiapkan pakaiannya, ikut menikmati upah / gaji dari suaminya yang dzalim.

Maka mereka ini, juga akan mendapatkan azab neraka, karena telah membantunya /mendiamkannya dalam perbuatan dzalim.

Demi Alloh, kalian dan keturunan kalian akan dilaknat Alloh jika kalian tetap menjadi pelindung kecurangan, kebatilan, kemaksiatan, kemungkaran, ketidak-adilan, kedustaan/bohong, kedzaliman. Kalaian dan keturunan kalian akan hina dalam laknat Alloh dan laknat manusia jika tidak segera berbalik menjadi pelindung dan penjamin keadilan bagi rakyat yang istiqomah berada dalam kebaikan dan kebenaran.

Maka, bagi para istri dan anak-anak pejabat, aparat atau sejenisnya, yang bapaknya saat ini dapat jabatan sebagai aparat keamanan di dalam rezim penguasa yang dzalim, wajib bagi kalian untuk menolak perilaku suami atau ayah ayah kalian, yang turut serta berbuat dzalim membela penguasa dzalim.

Jangan senang ikut menikmati kemewahan dari gaji / jasa berbuat kedzaliman, dengan mengurbankan urusan keselamatan akhirat kalian. Nasihati suami-suami kalian atau ayah-ayah kalian.

Bagi Aparat muslim, berhentilah kalian berbuat dzalim dan membela rezim penguasa atau atasan yang dzalim, dengan cara menasehatinya, berlepas diri dari perintahnya.

Jika kalian ingin selamatkan istri kalian, anak-anak kalian dan diri kalian, bahkan ingin selamatkan bangsa kalian dari huru hara keruntuhan, maka hentikan dan akhiri kekuasaan penguasa yang dzalim dengan melakukan pembangkangan massal, atau mengeksekusi penguasa dzalim dengan tangan dan senjata yg ada di tangan kalian (do’a).

Maka kalian akan menjadi pahlawan = orang yang diberi pahala (pahlawan) sejati, penyelamat negeri, penyelamat anak-anak dan istri, serta penyelamat generasi penerus bangsa ini, dan kalian akan mendapatkan syahid di hadapan Alloh Rabb kalian, dan nama kalian akan dicatat dalam tinta sejarah yang harum di dunia, dan insya Alloh juga di akhirat, Aamiin Allohumma Amiin Ya Mujibas Sa’ilin.

Pilihan kalian hanya 2: menjadi manusia terlaknat, atau menjadi pahlawan sejati. (Al Ustadz Abu Fayadh Muhammad Faisal Al Jawy al-Bantani, S.Pd, M.Pd, Gr)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *