Menuju Jabal Nur Setelah Shalat Subuh Berjamaah

Umum257 Dilihat

HANYA berkisar 10 orang jamaah dari KBIHU Maulana Azhari pimpinan Ustad Zaidun dari Kayuringin Kota Bekasi yang bertolak ke Jabal Nur pada pukul 02.30, Rabu (5/6/2024). Mungkin karena harus jam berangkatnya yang masih subuh, karena kecapaiam harus istirahat, atau mungkin juga karena kebanyakan jamaah jaga stamina jelang wukuf di Arafah.

“Alhamdulillah kita sampai Jabal Nur tadi,” kata Ustad Zaidun kepada wartawan koranbekasi.id Zulkarnain Alfisyahrin dari Makkah.

“Kita shalat subuh berjamaah di sekitaran Jabal Nur sebelum mendaki. Alhamdulillah berjalan lancar dan berkah. Insyaa Allah. Jabal Nur adalah tempat turunnya Al-Qur’an pertama kali,” timpal Ustad Sodikin.

Jabal Nur merupakan gunung yang membentang di kawasan Hejazi, Makkah. Gunung ini mendapat sebutan Gunung Cahaya. Salah satu area bersejarah di Jabal Nur adalah Gua Hira, yang menjadi tempat persinggahan Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril berupa lima ayat surat Al-Alaq

Tinggi puncak Jabal Nur sekitar 200 m dengan bentuk puncak yang tajam. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk mendekati puncaknya. Dari puncak Jabal Nur, pengunjung bisa melihat pemandangan kota Makkah yang indah dari ketinggian. Selain itu, Masjidil Haram juga bisa dilihat dengan jelas tanpa adanya gangguan gedung-gedung tinggi yang menutupinya.

Apabila ingin mengunjungi Jabal Nur maka harus melakukan perjalanan ke arah utara dari kota Makkah. Kira-kira harus menempuh perjalanan sejauh 5 km dari Masjidil Haram atau dari hotel Al Kiswah tempat menginap rombongan Kloter 29 asal Kota Bekasi.

Terkait rombongan yang lain yang tidak ikut, pemerintah memang mengimbau untuk tidak melakukan perjalanan atau aktivitas lain jelang pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). Para jemaah diimbau mempersiapkan fisiknya. Sebab, ibadah ini menuntut tubuh yang prima serta ketahanan fisik.

Seperti dikatakan anggota Media Center Haji Kementerian Agama (Kemenag) Widi Dwinanda, sebaiknya jamaah membatasi umrah dan ibadah sunah berulang kali. Sebab, aktivitas tersebut dapat mempengaruhi ketahanan fisik jemaah haji.

“Aktivitas tawaf sunah dan umrah berkali-kali ini dapat menurunkan ketahanan fisik dan rentan memicu kambuh penyakit bawaan pada saat puncak haji mendatang. Karenanya, jemaah diimbau untuk membatasi ibadah umrah dan aktivitas ibadah sunah yang berpotensi menguras energi,” katanya.

Sebelumnya, meski sudah diimbau berulangkali untuk tidak melaksanakan umrah sunnah selama masa tunggu puncak haji, tetap saja banyak jamaah haji tidak mengindahkannya. Bahkan, ada jemaah yang mengambil umrah setiap hari.

“Berdasarkan pantauan ada jemaah haji yang sangat bersemangat umrah sunnah. Ada yang tiap hari melaksanakan umrah sunnah berlebihan. Khawatir hal itu akan mengganggu kesehatan jemaah,” ujar Kepala Daerah Kerja (Daker) Khalilurrahman di Makkah.

Ya, memang cuaca yang sangat terik sampai 43 derajat pada siang hari di kota Makkah saat ini cukup ekstrim. Bahkan sudah banyak jamaah yang mengalami batuk-batuk dan ada juga yang sudah masuk rumah sakit setempat. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *