Tradisi Ngelancong di Kampung Kranggan Saat Muludan

Umum1410 Dilihat

MEMPERINGATI hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi, digelar dengan beragam tradisi. Sukacita agama dan budayaan, sangat kental dalam setiap perayaan.

Salah satunya seperti yang ada di Kampung Kranggan, Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Di Kampung Kranggan sendiri mempunyai tradisi yang bernama sungkeman atau di sebut Lebaran Kranggan yang mempunyai istilah lain yaitu ngelancong.

Banyak masyarakat yang hadir untuk ngelancong ke Kampung Kranggan. Mereka hadir dari berbagai daerah di Jawa Barat atau Jabodetabek, untuk sungkeman ke para tokoh atau sesepuh yang dituakan oleh warga Kranggan, atau lebih dikenal dengan istilah Bapak kolot, panggilan hormat ke tokoh di Kampung Kranggan.

Uniknya, mereka datang tidak dengan tangan kosong. Pasti membawa barang tertentu, yang kemudian diserahkan ke tokoh tersebut. Kehadiran mereka tidak lain untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Mauludan.

Napih (34) salah seorang warga yang hadir saat ngelancong pun mengatakan sudah jadi hal yang lumrah setiap tahunnya melakukan ngelancong di setiap bulan mulud. Mereka yang datang pun tidak ada yang diundang sama sekali, karena semua yang datang sudah paham dan mereka datang dengan hati nuraninya sendiri.

“Sudah dari dulu jadi adat istiadat budaya di sini, khususnya saat menyambut Mauludan sudah dilakukan secara turun temurun setiap tahunnya di Kranggan, mereka yang datang ini tidak diundang sama sekali, mereka datang sendiri dasar dari hati nuraninya sendiri,” ujar Napih, Jumat (29/9/2023).

Napih juga mengatakan dengan terus menjaga budaya leluhur Kranggan, tidak lain adalah untuk menyatukan, untuk menjaga silahturahmi. Ia juga berpesan kepada generasi generasi muda agar belajar memahami tradisi dan budaya karena itu adalah kekayaan negri kita.

 

 

Tokoh adat warga Kranggan yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi Anim Imamuddin pun mengakui bahwa ini adat budaya yang dilakukan setiap tahun, tepatnya pas peringatan kelahiran Nabi Muhamad sekaligus muludan setiap 12 Robiul Awal.

“Dan tanggal 14 Robiul Awal ada peringatan Maulid selama empat hari empat malam sekaligus ada tradisi Ngebungbang yaitu menyucikan diri dan pengampunan dosa dari Allah swt,” ujar Anim. (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *