STKIP Kusuma Negara Wisuda Sarjana S1 ; Wujudkan Guru Profesional di Era Disrupsi

Pendidikan480 Dilihat

JAKARTA, KORANBEKASI.ID – STKIP Kusuma Negara Jakarta mewisuda sarjana strata satu (S1) di Gedung Sasono Langen Budoyo TMII, Rabu (29/11/2023). Ketua STKIP Kusuma Negar Jakarta, Dr H Herinto Sidik Iriansyah MSI mengatakan pada wisuda tahun 2023 mengambil tema “Wisudawan WIsudawati Generasi Unggul Siap Menguatkan Pendidikan Inovatif untuk Indonesia Emas 2045”.

Tema tersebut menurutnya, mengandung makna bahwa lulusan STKIP Kusuma Negara siap beradaptasi untuk implementasi Pendidikan inovatif, Guru menyongsong Indonesia Emas 2045.
Pada acara wisuda yang ke-40 tahun 2023 ini, melepas lulusan sekaligus mempersembahkan untuk Semester Ganjil dan Genap Tahun 2022/2023 sebanyak 324 orang lulusan yang terdiri dari:
Untuk Tahun Akademik 2022/2023
1. Program studi Bahasa Inggris sebanyak 62 calon Wisudawan/Wisudawati,
2. Program studi PPKn sebanyak 26 calon Wisudawan/Wisudawati,
3. Program Studi Matematika sebanyak 54 calon Wisudawan/Wisudawati,
4. Program studi Pendidikan Anak Usia Dini sebanyak calon 32 Wisudawan/Wisudawati,
5. Program studi Pendidikan Olahraga (POR) sebanyak 55 calon Wisudawan/Wisudawati, dan
6. Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebanyak 95 calon Wisudawan/Wisudawati.

“Syukur Alhamdulillah…Rata-rata mereka lulus dengan predikat memuaskan, dan atas nama Civitas Akademika STKIP Kusuma Negara, saya menyampaikan penghargaan dan selamat kepada para Wisudawan atas ketekunan, keuletan dan keberhasilan mereka dalam menyelesaikan studi,” ujarnya.

Menurutnya hingga kini alumni STKIP KN masing-masing Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Prodi PPKn, Prodi Pendidikan Matematik, Prodi PG PAUD, Prodi POR, dan prodi PGSD dengan lulusan sebagai berikut, yaitu total 20.563 Wisudawan.

STKIP Kusuma Negara saat ini memiliki sumber daya manusia, dosen institusi 99 D. Pendidikan Akademik Dosen S2 sebanyak 72 orang dan S3 sebanyak 27 orang. Jafung, sebanyak 32 orang dengan status AA: 56 orang, Lektor: 13 orang dan Lektor Kepala: 4 orang. Total Dosen yang telah sertifikasi sebanyak 63 orang.

“Keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan lomba dan olahraga pada tingkat nasional dan internasional, POMNAS XVIII Tahun 2023 di Kalsel, atlet dari STKIP KN memperoleh 1 medali perak dan 2 medali perunggu,” ujarnya.

Dalam sambutanya Dr H Herinto Sidik Iriansyah mengingatkan tantangan ke depan semakin berat adalah era disrupsl.
Era disrupsi merupakan masa terjadinya inovasi dan perubahan secara massif, dari segi system dan tatanan Pendidikan agar Pendidikan di Indonesia terus maju. Perubahan yang sangat besar ini disebut dengan era disrupsi Pendidikan. Fenomena disrupsi merupakan situasi pergerakan suatu hal yang tak lagi linier. Era disrupsi memiliki beberapa ciri: perubahan yang massif, cepat, dengan pola yang sulit tertebak. Perubahan yang cepat menyebabkan ketidakpastian, terjadinya kompleksitas hubungan antar factor penyebab perubahan, kekurang jelasan arah perubahan yang menyebabkan ambiguitas.

Pada era ini, teknologi informasi telah menjadi basis atau dasar dalam kehidupan manusia termasuk dalam bidang Pendidikan, sehingga terjadilah kemudian disrupsi Pendidikan.

STKIP Kusuma Negara terus berupaya mewujudkan guru profesional.
Guru profesional era disrupsi yakni guru yang akan lebih cakap mengubah pelajaran yang membosankan dan tidak inovatif menjadi pembelajaran multi-stimulan sehingga menjadi lebih menyenangkan dan menarik.

Untuk itu dalam melaksanakan literasi digital sekaligus mewujudkan guru disrupsi, guru harus memulai mengubah cara mengajar, meninggalkan cara lamanya serta fleksibel dalam memahami hal-hal baru dengan lebih cepat. Di Era disrupsi bukan hanya peserta didik, tetapi guru, dan dosen pun juga harus memiliki ketrampilan abad 21. Karena tidak mungkin guru dapat melatih ketrampilan tersebut kepada peserta didik jika gurunya sendiri belum menguasainya. Guru harus memiliki kompetensi yang kuat, memiliki softskil yaitu; berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif. Peran guru sebagai teladan karakter, menebar passion dan inspiratif. “Inilah peran yang tak akan dapat digantikan oleh teknologi,” ujarnya.

Tantangan terbaru dalam menghadapi arus disrupsi menuntut setiap orang untuk melakukan inovasi dalam segala hal. Lahirnya generasi milenial yang begitu akrab dengan gadget cukup mendapatkan respon positif dari dunia pendidikan, munculnya tren baru dalam proses pembelajaran hingga muncul kelas-kelas online jarak jauh yang didukung dengan jaringan internet, memaksa tenaga pendidik harus melakukan proses pembelajaran yang inovatif dan kreatif agar penyampaian materi terkesan tidak monoton, siring dengan kemajuan teknologi yang harus bergerak secara massif tentu membawa dampak yang negative karena terpisahnya pembelajaran dari ruang kelas sehingga berdampak dengan hilangnya nilai humanisme, kebudayaan dan social religious pada diri peserta didik.

Dampak positif dari era ini juga memunculkan nilai kreatifitas dan daya saing yang tinggi, munculnya bimbingan belajar yang berbasis online seperti rumah belajar ataupun yang lainnya menjadi jawaban dan tanggapan yang positif dalam menyesuaikan dengan jaman.

Jika pada jaman dulu pendidikan terpusat pada guru, di era disrupsi ini proses pembelajaran berubah menjadi terpusat pada peserta didik. Untuk itu gurupun dituntut untuk tetap memperhatikan nilai humanisme dalam proses pembelajaran sehingga proses pembelajaran tidak tercabut dari akarnya.

Ia mengingatkan,wisudawan Wisudawati agar merenungkan Kembali fungsi guru secara klasikal. Materi pembelajaran adalah sesuatu yang penting, tetapi metode pembelajaran jauh lebih penting dari pada materi pembelajaran. Metode pembelajaran adalah sesuatu yang penting, tetapi, peranan guru jauh lebih penting dari pada metode pembelajaran. Guru adalah sesuatu yang penting, tetapi jiwa guru jauh lebih penting dari seorang guru itu sendiri. Kemajuan teknologi dirasakan telah banyak membantu siswa dalam mendapatkan informasi pengetahuan dan literasi yang melimpah, namun tekhnologi tidak sanggup menciptakan jiwa.

Jiwa guru membiaskan sikap profesional, kepribadian luhur, humanis dan keteladanan, sudah semestinya keduanya bersinergi dalam menyokong tujuan Pendidikan secara umum.(kim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *