Kenangan Mudik Era 80-an; Saat Orangtua Sepuh Melepas Rindu

Umum890 Dilihat

JALAN lintas tengah Sumatera melewati desa Siunggam, Paluta, Sumatera Utara. Di sepanjang kiri-kanan jalan berderet rumah panggung. Ibu sepuh itu duduk di tangga rumah dengan rindu yang membara. Tatapan matanya fokus ke jalan. Ia menanti bis ALS/Sampagul berhenti di depan rumah yang ditumpangi anaknya. Di lebaran itu anaknya yang sudah 5 tahun merantau dijadwalkan pulang.

Kabar kepulangan si anak cuma bermodalkan konon katanya. belum ada HP, apalagi video call. Di era 80-an, listrik PLN saja belum dialiri di kampung itu.

Malam berlalu, yang ditunggu belum tiba. Si Ibu hanyut dalam genangan rindu. Lima tahun berpisah dengan buah hati bukan perkara mudah. Si anak yang ia besarkan dengan butiran keringat, tubuh dibakar terik mentari saat menyiangi sawah (marbabo) dan terkadang menantang maut.

Saya sebut menantang maut lantaran banyak ibu-ibu yang sudah hamil tua atau sdh 9 bulan lebih kandungan masih aktif dan kerja keras di tengah sawah. Untung saja tidak lahiran di pematang sawah. Kala itu, sering kali kita dapat kabar kemarin sore masih macul, esok paginya sudah lahiran. Anak yang dilahirkan itu kini sudah merantau dan 5 tahun belum pulang. Bagaimana tak rindu hebat.

Selama 5 tahun si ibu hanya bisa menangis ketika rindu menghampiri. Dalam tangisan itu si ibu bersyair (mangandung), ooooooo anakkuuuu amaaaang lungun naon damaaaang (oh anakku betapa rindunya mama, tak bisa ku lukis dengan kata).

Di era 70-80 an para perantau dari Tapanuli pasang “kontrak” belum mau pulang kampung sebelum berhasil. Makanya ada yang baru balik 5-10 tahun. Seperti slogan petugas pemadam kebakaran, Pantang pulang sebelum padam. Perantau pun, pantang pulang sebelum berhasil.

Yang Ditunggu Tiba

Si ibu yang dalam penantian lama berlari dari rumah begitu bis yang membawa anaknya dari ibu kota berhenti di depan rumah. Si anak ia peluk dan wajahnya habis diciumi dalam tangisan hebat. Warga kampung pun seketika menyemut mengerumuni si anak rantau.

Tubuh si anak tentu berbeda dgn 5 tahun yang lalu. Kini tubuhnya dibalut pakaian rapi, pergelangan diikat jam tangan dan leher dilingkari kalung.

Si kenek bis teriak-teriak karena mau buru-buru berangkat, sementara barang bawaan belum diturunkan. Kata si kenek, madung natangisi (udahan yg nangis), turunin barang dulu. Para sanak family pun turut membawakan barang ke rumah.

Di rumah, roti khong guan oleh-oleh itu dibuka untuk dicicipi yang hadir. Yang Oppung-oppung beruntung sekali, roti buat mereka dihidangkan di piring kecil lengkap dengan teh manisnya. Roti itu dicelup lalu disantap. Sering kali karena keasyikan ngobrol, kelamaan celup rotinya hancur tenggelam ke dasar gelas. Jadi gelas Oppung itu penuh dengan roti. Sementara kami para bocah dibagikan langsung ke tangan dengan roti sejenis oreo yang tengahnya ada gula. Roti itu kami belah, lalu gulanya dijilat secara pelan-pelan. (Erman Tale Daulay, Penulis, tinggal di Depok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *