Era 80-an di Hamparan Sawah Padang Bolak; “Marbue” Papodom Daganak-Tembang Pengantar Tidur si Buah Hati

Umum391 Dilihat

TANGIS bayi enam bulan itu terdengar dari ayunan seadanya. Disebut seadanya karena ayunan dibuat dari dua batang bambu jenis “attobol” yang ditancap berjarak, kemudian disambungkan selendang (paroppa).

Si bayi dininabobokan di selendang sambil diayun dan si ibu pun berdendang, “Ellallooodaaa modom dipapodom ma ho amang. simbur magodang ko amang anakku….”

Setelah terdidur, si kakak yang bocah disuruh menjaga adeknya disebut marorot, sementara si ibu ke tengah sawah menyiangi padi (marbabo). Sembari menunduk, si ibu bergerak cepat memutar mencabut rumput yang mengganggu pertumbuhan padi.

Tak ada guratan letih di wajah si ibu, meski dibakar terik matahari. sinar mentari yang memanggang terasa sejuk karena si ibu membayangkan hasil panen untuk pangan dan keperluan keluarga.

Si bayi tiba-tiba terbangun menangis, si kakak bocah yang dipercaya menjaga adeknya kewalahan mendiamkannya, malah ia ikut ikutan nangis. ia pun memanggil ibunya agar beranjak dari sawah, si ibu merespon, ” tunggu bentar ya mang, sedikit lagi.”

Tangis si bayi yang kehausan ingin menyusu bertambah kencang membuat si ibu berlari mendekat lalu main cilukba. Dengan tubuh berlumpur si ibu menyusui bayinya.

Setelah tertidur si bayi ditempatkan kembali ke ayunan, si ibu balik bertarung ke sawah. Bapaknya jangan tanya kemana, sebahagian ada yang di lopo sejenis warung kopi karena menganggap marbabo atau menyiangi tugas perempuan, dan ada juga yang bekerja sampingan untuk mendapatkan upah uang tunai.

Minggu yang hari libur areal pertanian Siunggam, Padang Bolak, jadi ramai karena para keluarga makan siang di sawah. Anak-anak sekolah total membantu orangtua.

Tiba giliran makan siang di bawah pohon bambu yang rimbun, sekeluarga duduk melingkar menyantap makanan dengan porsi lauk minimal.

Sementara makanan lembek buat si bayi, nasi dikunyah si ibu dulu sampai jadi bubur baru kemudian disuapkan ke si bayi. Makanan yang dikunyah si ibu baru diberi ke si bayi, kami menyebutnya, “Dimama”.

Makanan itu terpaksa dimama karena keluarga tidak punya alat penghancur nasi, jadi terpaksa dikunyah si ibu dulu. Yang jelas gak ada tuch bakteri, malah si bayi tumbuh sehat dan dewasa terpilih jadi pasukan elit infantri, jadi guru, birokrat hebat dan orang terpandang di perantauan. Mama dimama!!! (Erman Tale Daulay, tinggal di Depok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *