Tawaf Sunnah dengan Skuter, Jamaah Santap Sore dengan Nasi Kebuli

Umum296 Dilihat

TIDAK semua jamaah yang berangkat haji punya fisik yang prima. Apalagi bagi mereka yang sudah usia lanjut. Namun yang usia paruh baya banyak juga yang bermasalah.

Seperti dilaporkan wartawan koranbekasi.id Zulkarnain Alfisyahrin dari Makkah, Rabu (5/6/2024), dalam rombongan KBIHU Maulana Azhari dari Kayuringin Kota Bekasi, yang termuda berusia 18 tahun dan yang tertua 80 tahun. Ada yang usia 80 tahun masih kuat melaksanakan tawaf dan sai. Tapi, ada juga yang masih berusia lebih muda tak mampu berjalan melaksanakan tawaf dan sai.

Misalnya saat tiba di Makkah dan semua peserta wajib melaksanakan tawaf dan sai. Maka bagi mereka yang tidak mampu melakukannya, akan ada petugas haji Indonesia yang umumnya dari mahasiswa Indonesia yang kuliah di Makkah, mengantar untuk tawaf dan sai. Petugas ini mengantar jamaah dengan kursi roda dari hotel pulang pergi dengan biaya 350 Riyal (1 Riyal = Rp4.500).

Ya, memang ada layanan petugas haji bagi yang menggunakan kursi roda di Masjidil Haram untuk tawaf atau sai. Haji adalah ibadah fisik. Tawaf dilakukan dengan mengitari Kabah sebanyak tujuh kali. Sementara Sai, berjalan dari Shafa ke Marwah, bolak balik hingga tujuh kali. Jarak tempuh dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali perjalanan.

Pada Selasa (4/6/2024) pun rombongan KBIHU Maulana Azhari melakukan tawaf sunnah bagi mereka yang tidak mampu melaksanakan sebelumnya. Rombongan berangkat pukul 08.00 waktu setempat. Dengan jumlah 17 orang plus satu tenaga medis, rombongan dipimpin langsung Ustad Zaidun dengan menaiki skuter setelah sebelumnya membeli tiket di loket. Satu skuter untuk dua orang dengan biaya 115 Riyal.

Dimulai naik dari lantai bawah hingga ke lantai tiga Masjidil Haram. Layanan sewa skuter sepenuhnya dikelola Masjidil Haram. Dan memang pengelola Masjidil Haram telah menyediakan jalur khusus bagi jemaah yang akan tawaf dan sai menggunakan skuter di lantai tiga Masjidil Haram.

“Alhamdulillah, kita sudah selesai tawaf sunnah dan mari shalat sunnah menghadap multazam,” kata Ustad Zaidun setelah rombongan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

Multazam adalah bagian dari Ka’bah yang mulia diantara hajar aswad dan pintu Ka’bah. Makna iltizamuhu (merapatkannya) yaitu orang yang berdoa menaruh dada, wajah, lengan dan kedua tangannya di atasnya dan berdoa kepada Allah apa yang mudah baginya dari apa yang dia inginkan. Dan tidak ada doa khusus seorang muslim berdoa di tempat itu.

Pelaksanaan tawaf sunnah dengan menggunakan skuter berlangsung satu jam. Para jamaah kembali ke hotel sekitar pukul 10.00 pagi. Pada sore harinya, para jamaah pun menyantap nasi kebuli di lorong lantai 26 Hotel Al Kiswah Makkah dengan daging kambing yang disembelih untuk Dam. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *