Pelajaran Berharga Saat Menunaikan Ibadah Haji, Islam Satu Dalam Dunia

Umum254 Dilihat

BANYAK pelajaran berharga yang didapat saat menunaikan ibadah haji, baik di Makkah maupun di Madinah. Mulai bagaimana kita bersifat sabar, ikhtiar, jujur, belajar sedekah harta, belajar saat ihram yaitu belajar meninggalkan yang dilarang walau sementara waktu, rajin berdzikir, tetap semangat walau letih dalam beribadah, menambah amalan-amalan, mengucap talbiyah dan sejumlah lainnya.

Artinya kita harus mampu menahan diri dari segala sesuatu yang mengurangi rukun-rukun haji. Misalnya menahan diri dari kebiasaan meng-ghibah (menyebut orang lain yang tidak hadir di tempat kita, sesuatu yang tidak disenangi oleh yang bersangkutan).

Seperti dilaporkan wartawan koranbekasi.id Zulkarnain Alfisyahrin dari Makkah, Senin (1/7/2024), selain ber-ghibah juga kita harus sabar dalam berbagai apapun. Contoh yang paling ringan adalah soal pemondokan di Mina yang berdempet-dempetan dan WC yang harus antre setiap harinya.

“Ya kita nikmati saja. Kondisinya memang begitu. Jangan marah-marah, harus tetap sabar,” ujar KH Sukandar Ghazali, Wakil Ketua Umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kota Bekasi.

Memang, saat ngantri di WC Mina, barisan yang antri sudah ada delapan orang. Namun, ada seorang bertampang Arab, ogah ngantri dan main nyelonong. Tapi akhirnya ditolak orang Indonesia dan akhirnya pindah ke antrian lain, juga bernasib sama. Akhirnya orang tersebut tak dapat tempat untuk masuk WC kecuali dia mau ngantri.

Demikian juga saat antrian kaum ibu. Seorang ibu yang sudah tak sabar ngantri mengatakan dengan suara kencang; “Setiap toilet yang pintunya terbuka, saya yang duluan masuk.” Kaum ibu yang lain pun hanya tersenyum dan tidak memberikan masuk kepada ibu tersebut. Bayangin, ada 12 pintu toilet mau dikuasai sendiri oleh ibu tersebut.

Ketika lima hari di Madinah, tetap saja kita harus bersikap sabar. Lihat saja ketika orang Indonesia yang menginap di satu hotel. Hotel berlantai 14 ini punya lift lima dengan kapasitas 10 orang. Sehingga setiap kali usai melaksanakan shalat lima waktu di Masjid Nabawi, pasti lift hotel penuh dan saling berjejal.

Ada seseorang jamaah yang suka mengatur barisan agar mudah masuk dan ke luar lift. Namun, ditanggapi berbeda oleh orang lain sehingga keduanya nyaris bertengkar. “Saya sudah dari tadi ngantri tapi gak masuk-masuk, jangan diatur-aturlah, biar aja begini,” kata seorang jamaah.

Bapak yang mengatur ngotot juga. Untungnya ada jamaah lainnya, Bapak Anis yang melerai.

Tetapi, Senin (1/7/2024) kemarin, ada pelajaran berharga yang diberikan oleh orang India kepada saya. Sambil menunggu shalat dhuhur tiba, seorang rekan mengambil minuman. Saat saya hendak meminumnya, seorang pria dengan baju sederhana menahan tangan saya dengan memberi kode dengan tangan kanannya yang diarahkan ke bibir.

Saya paham maksudnya bahwa saya telah menggunakan tangan kiri untuk minum. “Thank you,” saya ucapkan terimakasih padanya.

Seorang pria India yang berpenampilan sederhana, telah menegur saya untuk makan dan minum dengan tangan kanan. Jadi jangan coba-coba dengan tangan kiri. Ini adalah etika saat mana kita menggunakan tangan kanan dan juga kiri.

Satu hal lagi, ketika saat duduk menanti waktu shalat, si pria India tadi menoel-noel celana putih bagian paha saya. Rupanya dia ingin membersihkan setitik tanda hitam di celana saya.

“Are you from Indonesia or Malaysia?” tanyanya yang saya jawab Indonesia. Dia pun mengangguk pelan seolah mengatakan ada kotoran di celana putih yang saya pakai untuk shalat. Jadi harus dibersihkan. Jelas, pengalaman berharga yang saya tak pernah lupakan. Bahwa dia ingin membersihkan celana saya.

Bagaimana seorang pria India yang mengenakan kemeja dan sarung seadanya dari negeri yang kita ketahui beragama mayoritas Hindu, tapi berani dan tanpa sungkan menyampaikan satu hal yang dia ketahui bahwa itu adalah benar.

Di sini pun jelas bahwa tak ada kasta, tak pandang usia muda maupun tua, tak ada pangkat atau jabatan sama sekali, tak ada si kaya apalagi si miskin, semua umat Islam dari seluruh dunia adalah sama. Satu di mata Allah SWT. Dalam shalat pun kita tetap sama, tak ada penggunaan bahasa daerah apalagi Inggris, juga rukun shalat yang sama, dan shalat lima waktu pun yang sama. Ya, inilah Islam dalam satu dunia. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *