Sebutir Telor Untuk Enam Anak Dekade 80-an

Opini443 Dilihat

SEBUTIR telor berbaur cabe ulek dikocok dalam sebuah mangkok. Kuali penggoreng sudah mengeluarkan asap pertanda siap mengubah telor jadi dadar. Bunyi saaaaaaaakkkk terdengar ke tetangga begitu telor ditumpahkan, lalu mengembang tipis, lebih tipis dari kartu ATM.

Saking tipisnya, telor sdh mendekati kuping kuali. Telor dadar dibuat para ibu tipis melebar karena sebutir telor untuk lauk enam orang anak yang pagi itu siap-siap berangkat sekolah.

Jadi, jauh hari sebelum krisis corona yang memaksa berhemat-di rumah saja dan gak kerja bikin kantong babak belur-kami awal 80-an di Padang Bolak sudah merasakan itu karena ketiadaan ekonomi alias parsuadaan.
Untuk menghindari perang saudara sesama anak, si ibu harus adil membagi telor. Cara yang dipilih memotong dengan model pizza hut.
Sepulang sekolah, kuali penggorengan jadi rebutan kami. Siapa cepat dia dapat. Nasi akan diaduk ke kuali alias disaok untuk menciptakan nasi goreng buatan. Minyak goreng yang tertinggal di dasar cekungan kuali jadi bumbu penyedap rasa. Indahan digaorkon tu huali i baru manandak namangani, bope nadong sambalna. (Erman Tale Daulay/Asal Desa Siunggam Paluta/Kini Tinggal di Depok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *